Ya…untuk siapapun anda dan dimanapun anda yang memiliki usaha penyediaan akomodasi (hotel, villa, resort,dll), restauran dan penyewaan mobil yang ingin masuk dalam daftar list rekanan wisatara.com…..SEGERA…kirimkan data-data usaha anda ke :

wisatara@yahoo.com

100% GRATIS TANPA BIAYA SEPESER PUN….

Tunggu apalagi?

Program ini berlaku hanya sampai akhir bulan ini saja….

  Diseluruh Indonesia, hanya ada satu pantai yang dapat menyaksikan sunrise dan sunset disatu titik berdiri yang sama. “Pantai itu yakni pantai Losari, Makasar”, begitu kata Jusuf Kalla salah satu tokoh masyarakat disana mengatakan kepada saya sambil membanggakan pantai ini, satu saat yang lalu. Awalnya saya bingung dengan kenyataan ini. Posisi pantai yang memanjang Utara-Selatan ini memang bisa menyaksikan terbitnya dan terbenamnya matahari disatu posisi yang sama. Unik memang. 

Lepas dari itu, pantai Losari adalah salah satu pantai paling resik dan apik yang pernah saya datangi diseluruh Indonesia ini, dan hebatnya lagi pantai ini berada tepat dijantung kota besar. Membandingkan dengan beberapa bibir pantai kota kota besar di Jawa, jelas Losari paling top: bebas sampah dan nyaman dikunjungi. Sambil menulis ini saya membayangkan betapa bau dan kroditnya situasi di Tanjung Priok Jakarta, atau pelabuhan Perak di Surabaya. Tidak heran, dahulu ketika Ratu Elizabeth dari Inggris bertandang ke Jakarta (era 80 an) ia tidak mau turun dari mobil saat tiba di Tanjung Priok karena begitu shock dia dengan bau dan amburadulnya situasi dipelabuhan. Dia pikir, Tanjung Priok sama indahnya dengan Hongkong harbour . Kejadian ini menjadi “insiden protokoler” yang memalukan, tapi begitulah wajah pelabuhan di Jakarta.

Posisi pantai Losari sangat strategis dan menjadi bagian yang menyatu dengan suasana kota Makasar yang membentang sejauh kurang lebih 4 km. Pantai ini langsung dapat diakses dengan jalan utama protokol utama. Diseberang jalan bertumbuhan hotel dengan berbagai kelas. Sebut saja beberapa nama hotel yang lokasinya amat dekat dengan bibir pantai al: Hotel MGM, Hotel Losari Beach, Hotel Quality, Hotel Aryadutta, dan Hotel Aston. Untuk mid-budget traveller, bisa pilih Hotel Losari Beach, atau agak masuk sedikit kedalam jalan Joseph Latumahina, ada hotel kecil yang nyaman yakni Hotel Kenari. Saya sendiri suka Hotel Quality atau Hotel Losari Beach karena lokasinya oke, dan harganya tidak selangit.

Waktu paling ideal mengunjungi pantai Losari adalah sore hari antara jam 15.00 hingga jam 21.00. Banyak yang datang kemari untuk duduk duduk menikmati pantai yang bersih, jogging disepanjang pedestrian sejauh 500m, atau makan diwarung warung yang telah direlokasi oleh Pemda setempat (diujung paling selatan pantai). Tua muda akan datang kemari menikmati matahari terbenam disini sambil membelu makanan dari pedagang. Jika suka jogging, tempat ini juga sangat ideal. Udara bersih dan angin bertiup tanpa henti, matahari yang merah keemasan menyapu wajah manusia yang duduk bibir pantai.

  Pedagang menjual aneka makanan mulai dari jajan ringan saja sekedar ganjal perut seperti bakso atau gorengan. Ada juga makanan khas Makasar seperti Coto atau aneka hidangan masakan laut dengan resep asli orang bugis. Sungguh enak!

Suasananya amat tertib dan aman, saya merasa nyaman disini. Tapi ada satu yang saya keluhkan yakni: pengamen. Mereka ngeyel, tidak bisa ditolak untuk tidak menyanyi. Jadi semacam paksaan saja mendengarkan mereka menyanyi, dan suka memaksa dengan sindiran jika tidak diberi uang. Mereka mengamen tidak Cuma sendirian, tapi datang dengan sekelompok teman yang sama sama bernyanyi dengan nada (maaf saja ya) tidak bagus. Kenyamanan pantai ini berkurang minus satu poin hanya gara gara kehadiran pengamen yang tidak tau aturan dan main paksa ini. Ada baiknya pemda dan aparat melakukan penyuluhan agar kenyamanan di Losari tidak tercemar gara gara gerombolan pengamen macam begini.

   Jika Jakarta-Bogor punya derah Puncak utk menikmati udara pegunungan yg dingin, maka di Sulut pergilah ke Lemboken. Wisata disini memang tidak lepas dari pemadangan indah pegunungan dan jurang dalam yg elok menyejukan hati dan mata yg melihatnya. Sepanjang jalan yg dilalui mobil melewati aspal yang mulus, adalah melihat pemandangan alam bak dilukisan naturalis pelukis cina.
Jika hendak kemari dari Menado jarak tempuhnya sekitar 1,5 jam arah menuju kabupaten Tomohon, belok masuk ke desa Paslaten, lalu terus naik mendaki melewati ladang penduduk dan area pinus yg sepi tenang. Berbeda dengan suasana Puncakpass Jakarta-Bogor yg krodit dengan dengan lalin padat, angkot yg nyebelin, atau padat dengan villa aneka bentuk yang “suka suka”. Desa yang ada disini adalah desa alami yg telah ada sejak puluhan tahun silam, dalam kelompok kecil populasi, dan tidak sepadat area puncak bogor.  Benar benar tenang dan nyaman.

Mendekati puncak Lemboken, kita masih harus melewat satu desa terakhir bernama Temboan Rurukan. Desa kecil itu sangat tenang, penuh hamparan jemuran cengkeh yang baru saja dipanen dari ladang penduduk dan diletakan dipinggir jalan desa yang sangat lenggang. Hamparan cengkeh itu membuat deretan panjang dari pintu masuk awal desa hingga keujung akhir desa lagi. Diujung mulut desa mobil berhenti sejenak utk sekedar meluruskan kaki dan berfoto, didekat sebuah tugu penuh dengan deretan nama mantan lurah desa ini plus berikut patung kecil seorang Lurah dengan pakaian resmi Depdagri-nya yang putih. Saya tersenyum melihat deretan nama itu, secara spontan keluar celetukan: “Wah sebut saja ini tugu Pak Lurah”.

Bagi saya, waktu terbaik mengunjungi tempat ini adalah sore hari. Arah sinar matahari akan jatuh dari belakang kepala kita dan menyinari hamparan  luas permukaan bumi Sulut yang aakan tampak didepan kepala kita. Dari Lemboken, kita akan bisa melihat 3 landmark terkenal disini, yakni Kota Menado, Kota Bitung (kota kedua terbesar di Sulut), dan Danau Tondano. Sayangnya, urusan akomodasi disini rada susah. Bagi yang ingin menginap tidak tersedia vila-vila yang disewakan. Bahkan untuk makan-minum pun tidak ada warung. Karena itu, saat berangkat dari Menado, jangan lupa masukan air panas dalam termos, dan bawalah gula kopi dan teh serta biskuit ringan.

Puncak Lemboken adalah area terbuka, bukan tertutup pepohonan, karena itu kecepatan angin akan bertiup cukup keras dan membuat suhu tubuh akan cepat turun alias kedinginan. Sore hari jam 4, langit bersih tanpa awan tercatat suhu dikisaran 25-26* C pada thermometer dialat ukur saya.

(Hantulaut)

Tulisan ini disadur atas seijin administrator http://www.navigasi.net

   Mungkin bagi anda yang sudah berkali-kali mengunjungi kota wisata Bali yang sudah tersohor di belahan dunia…tentu tidak asing lagi dengan berbagai souvenir yang dihasilkan oleh perajin-perajin di kota Bali….

Berbagai aneka ragam souvenir ditawarkan kepada anda, dihampir semua kawasan wisata yang ada di Bali….selain beragam, bentuknya yang unik dan kualitas yang bagus membuat orang menjadi susah untuk melewatkan begitu saja barang-barang yang ditawarkan oleh para pedagang yang jumlahnya mencapai puluhan bahkan ratusan di masing-masing tempat wisata….

Upps….tapi tunggu dulu, anda jangan terburu-buru memilih dan membeli…karena kalau anda terburu-buru, bisa jadi anda akan menyesal nantinya ketika tahu bahwa harga barang yang sudah terlanjur anda beli ternyata sesungguhnya tidaklah harus semahal anda membelinya….

Untuk itu, ada baiknya anda perhatikan tips membeli souvenir berikut ini :

1. Bila anda baru pertama kali berkunjung ke kota Bali, dan anda ditawarkan souvenir oleh pedagang…anda boleh mencoba-coba bertanya harga dulu tetapi ingat…JANGAN TERBURU-BURU UNTUK MEMBELINYA DULU….

2. Tawarlah, berapapun harga yang diberikan oleh pedagang yang menawarkan barang sampai paling tidak 1/3 harga…katakan anda ditawarkan barang senilai 30rb…tawar di angka 10rb…bahkan kalau di tempat seperti Pasar Ubud…anda harus lebih hati-hati…dan anda bisa coba tawar sampai 1/4 dari harga yang ditawarkan oleh pedagang…

3. Khususnya untuk di Pasar Ubud, karena daerah ini memang begitu banyak turis asing dari Jepang,Australia, Eropa yang mengunjunginya…dan walaupun variasi souvenirnya sangat banyak….sebaiknya anda jangan belanja disini…bukan apa-apa…karena penjualnya akan JUAL MAHAL….saya pernah membeli 1 set pensil di Tanah Lot seharga 10rb…di pasar ubud ditawarkan 40rb…dan ketika saya tawar menjadi 10 rb….mereka tdk mau turun dari harga 20 rb….

4. Di alas kedaton, tempat semacam monkey forest dan sangeh itu…anda juga harus hati-hati….di lokasi wisata ini, setiap tamu yang berkunjung otomatis akan didampingi oleh seorang pemandu lokal untuk mengitari lokasi wisata tersebut….di ujung cerita, sebagai tamu kita diwajibkan melihat-lihat dulu, toko souvenir yang dijaga oleh pemandu tersebut…..nah…biasanya orang menjadi tidak enak hati untuk tidak membelinya…..saran saya…JANGAN MEMBELI DISITU…karena harga yang ditawarkan berkali-kali lipat dari harga seharusnya…..Kalaupun terpaksa anda harus membelinya…cukuplah beli 1….yang paling murah…atau kalau anda tidak membeli apapun…BERILAH TIP KE PEMANDU TERSEBUT…sebagai tanda terima kasih…dengan jumlah sewajarnya lah….

5. Kalau anda tipe orang yang tidak suka tawar menawar dan tidak pandai menawar….jangan khawatir, anda bisa mampir di sentral toko souvenir yang ada di Kota Denpasar …namanya toko Erlangga….bukan promosiloh…tapi aneka souvenir yang tersedia di toko tersebut cukup banyak dan harga sangat ekonomis tanpa pakai tawar menawar….contohnya kasus beli pensil diatas…ternyata di toko souvenir erlangga cuma seharga 7500 rupiah saja….

Demikian tips-tips untuk berbelanja souvenir di kota Bali…mudah-mudahan bisa membantu anda semua….

(Dzakha)

Bagi yang hobby cross country, camping, hiking dan semua yang berbau outdoor adventure, tempat ini merupakan salah satu tempat yang menarik untuk di singgah.
Hutan Taman Eden merupakan hutan tropis yang masih sangat ‘perawan’ dimana masih sangat jarang di kunjungi oleh manusia. Objeck wisata ini kelihatannya masih sangat sedikit di ketahui oleh masyarakat luas. Dari foto-foto yang terpampang di pintu masuk ke hutan, bisa di ambil kesimpulan bahwa yang telah berkunjung kesana hanyalah masyarakat dari kota P.Siantar (kota terdekat dengan kota Prapat) serta masyarakat sekitarnya. Pemandu jalan mengakui pernah beberapa kali membawa turis luar negeri kesana tetapi sangat jarang sekali.

Kami beranggotakan 20 orang melakukan perjalanan dari Kota Medan, singgah di kota P. Siantar untuk makan malam, melalui kota Prapat dan sampai di Taman Eden sekitar jam 1 dini hari. Taman Eden ini terletak 14km dari kota Prapat. Arah ke kota Porsea dan Balige dari kota Prapat.

Setelah menegak secangkir teh manis yang di sungguhkan oleh penjaga hutan yang telah tinggal di sana selama beberapa generasi, kami langsung melakukan perjalanan masuk kedalam hutan dengan penerangan senter. Perjalanan di lakukan dengan santai, melalui jalan setapak yang biasanya di lalui oleh penduduk setempat. Dengan melalui sungai, rintangan pohon tumbang, tanah lembek sampailah kami ke tempat perkemahan. Perjalanan 4,7 km yang kami tempuh 3,5 jam ini mengingatkan saya pada saat ospek kuliahan. Ada olahraga memanjat, jalan jongkok, merayap, meloncat dan lainnya.

Setelah api unggun di hidupkan barulah kami membangun tenda di sekitar api unggun tersebut. Dengan ber-atap langit dan di selimuti oleh sleeping bag kami semua terpulas hingga pagi harinya.

GPS yang saya gunakan adalah CF GPS dengan PocketPC, selama perjalanan saya coba mencari signal tetapi tidak dapat karena terhalang oleh pohon-pohon. Pagi harinya baru dapat 3 satelit karena di daerah camping merupakan tempat khusus yang telah di buka sekitar 50m2. Setelah sarapan popmie perjalanan kami lanjutkan ke tempat tujuan yakni Air Terjun 7 Tingkat. Perjalanan ke sana 2.47km serasa lebih berat dari pada perjalanan pertama yang lebih jauh berhubung medan yang di lalui lebih sulit. Terdapat lembah curam yang harus di lalui. Pada pagi hari baru saya amati ternyata terdapat tanda-tanda pada pohon-pohon sepanjang jalan yang menjadi panduan arah sehingga kita tidak tersesat. Setelah berjalan lebih kurang 4 jam, kami baru sampai ke tempat Air Terjun tersebut. Bila di hitung memang terdapat 7 tingkatan air di tempat tersebut.

Air di sungai hutan tersebut sangat segar dan menjadi sumber air minum bagi kami semua supaya terhindar dari dehidrasi selama perjalanan ini. Karang batu yang kami lalui ketika menuju ke air terjun agak berlumut dan sangat licin. Ini menandakan bahwa tempat tersebut jarang sekali di datangi oleh orang. Kami mandi dan makan di air terjun tersebut sambil mengambil gambar-gambar pemandangan yang indah di tempat itu.

Setelah ber-istirahat 2 jam di tempat tersebut, kami melakukan perjalanan dengan rute yang sama untuk kembali ke civilization. Total perjalanan kembali adalah 7 jam

Salam,

Ramli Lau (ramli@id-pocketpc.com)

Tulisan ini disadur dengan izin administrator situs http://www.navigasi.net

  Mampirlah ke Istana Maimun jika bertandang ke kota Medan. Rasanya perjalanan belum lengkap jika tidak menengok keindahan istana tua peninggalan salah satu warisan budaya Melayu terbaik dijamannya ini. Letaknya dipusat kota (jl. Brig.Katamso) mudah dicapai dengan kendaraan apa saja, mobil, atau kereta motor (semacam becak yang ditarik dengan motor disampingnya). Istana Maimun sendiri menjadi landmark kota Medan yang sangat terkenal, hampir mirip Jakarta dengan Monas-nya, atau kota Padang dengan jam Gadang-nya.

Istana Maimun ini didirikan atas perintah Sultan Kerajaan Deli, Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Desain rancang bangun dikerjakan adalah seorang arkitek Italia, dan rampung pada tahun 1888. Bangunan ini menghadap kearah Timur dan berdiri kokoh diatas tanah seluas 2.772 m2, dan menjadi pusat kerajaan Deli. Istana ini terdiri dari dua lantai terbagi dalam tiga bagian, yakni bangunan induk, sayap kiri, dan sayap kanan. Bersebelahan tak jauh darinya,  berdiri Masjid Al-Maksum yang lebih dikenal dengan nama Masjid Raya Medan sekitar 150m jauhnya.

Dengan luas bangunan dan area halamannya yang lebar, sosoknya tampak sangat mencolok ditengah hiruk pikuk kota Medan yang sekitarnya ditumbuhi bangunan pertokoan modern. Pertamakali memasuki halaman depannya, suasana “tenang” langsung menyergap kepala. Angin sepoi sepoi bertiup sejuk dihalaman teras depan istana megah ini. Atapnya yang menjulang setinggi 5 -8 meter membuat suhu ruangan didalamnya terasa sangat nyaman, serasa udara pengap kota Medan tidak terasa disini lagi.

Desain interior istana ini merupakan salah satu daya tarik utama. Perpaduan antara tradisi Islam dan kebudayaan Eropa tampak mendominasi. Selain yang terlihat di balairung, lantai dasar bangunan juga menunjukkan pengaruh Eropa. Menurut cerita, pada awal pembangunannya seluruh material pokok bangunan istana memang didatangkan dari Eropa, seperti ubin, marmer, dan teraso.  Pengaruh arsitektur Belanda terlihat dipintu serta jendela yang lebar dan tinggi, serta selasar atau koridor utama yang  bergaya Spanyol menjadi bagian dari Istana Maimun. Pengaruh Belanda juga terlihat pada prasasti marmer di depan tangga pualam yang ditulis dengan huruf Latin berbahasa Belanda.

Pengaruh kebudayaan Islam terlihat pada bentuk lengkungan atau arcade pada sejumlah bagian atap istana. Lengkungan yang berbentuk perahu terbalik itu dikenal dengan pilar lengkungan Persia, banyak dijumpai pada bangunan di kawasan Timur Tengah, Turki, dan India. Ornamen yang menghiasi istana juga nampak dipengaruhi oleh pola tanaman yang banyak dijumpai dalam khasanah seni budaya Islam.

Bagian lain yang menarik dari ruang utama adalah tersedianya 20 kamar tidur dan 4 kamar mandi, gudang, dapur, dan penjara kecil, satu jumlah kamar yang luar biasa mewah dijaman dahulu!  Membandingkan fungsi kamar dirumah modern jaman sekarang, Istana Maimun sudah menjalankan konsep fungsi ruang yang efisien pada sebuah rumah diera 1800 an. Kamar secara keseluruhan tersebar disayap samping kiri dan kanan serta ruas belakang istana. Keberadaan kamar tersebut masih ada hingga kini, dan masih dapat dilihat dari luar halaman.

Memasuki ruangan tamu (balairung) akan terlihati singgasana yang didominasi warna kuning, satu warna kebesaran dalam adat budaya Melayu. Lampu-lampu kristal raksasa tergantung ditengah ruangan, menerangi singgasana, sebuah bentuk adanya pengaruh kebudayaan Eropa. Pengaruh itu juga tampak pada perabotan istana seperti kursi, meja toilet dan lemari hingga pintu dorong menuju balairung. Ruangan seluas 412 m2 ini digunakan untuk acara penobatan Sultan Deli atau acara adat lainnya. Balairung juga dipakai sebagai tempat sultan menerima sembah sujud dari sanak familinya pada hari-hari besar Islam.

Kemewahan interior dan bangunan fisik istana ini dimungkinkan karena sejak 2 abad silam wilayah Deli dibawah Kesultanan Deli menghasilkan hasil perkebunan, minyak dan rempah yang melimpah ruah. Hasil bumi yang luar biasa ini memberikan penghasilan yang sungguh luarbiasa kepada Raja Deli dan keluarganya dimasa silam. Kekayaan Sultan Deli tampak al dengan kehadiran istana ini, atau dia sudah menunggang sepeda motor dijaman dahulu dan mempunyai beberapa mobil pilihan yang kerap dipakai berkeliling kota.

Satu hal yang menjadi catatan keprihatinan, adalah soal kerapihan dan perawatan istana elok ini. Gedung ini bukanlah gedung kosong. Kamar kamarnya ditempati oleh sanak kerabat keluarga raja Deli. Karena itu, jika menengok kesayap samping dan belakang tampaklah kondisi agak kumuh dan tak tarawat. Tembok yang hitam dan rusak, rumput belukar yang meninggi karena kurang terawat dengan baik. Bahkan diruang tengah (balairung) yang kerap dikunjungi turis, atapnya beberapa juga mengelupas. Sopir mobil kami sempat mengatakan, bahwa Istana ini sempat beberapa kali diberitakan menerima sumbangan uang bagi pemeliharaan dan restorasi. Jika memang betul, dan menengok kondisi istana yang seperti ini, tampaknya uang itu tidak sepenuhnya dipakai untuk restorasi dan perawatan gedung. Sungguh sayang

(Tulisan ini disadur dengan seizin admin http://www.navigasi.net)

http://www.navigasi.net/goart.php?a=bumaimun

Sop dan Soto: RM Soto kudus ‘Kliwon’ Puncak
Megamendung, Bogor, Jawa Barat
Jl. Raya Cibogo No. 114 , Puncak, Jawa Barat Telp : (0251) 253093

 

Sudah seperti ritual, setiap melalui     kawasan Puncak, saya dan istri selalu menyempatkan diri makan di rumah makan soto kudus Kliwon. Tempat yang tenang dan asri, udara sejuk memang paling enak makan makanan hangat berkuah. Resto ini benar-benar bergaya rumahan khas Jawa Tengah. Meja kursinya dari kayu sederhana, di sisi kiri tengah terdapat lemari kaca berisi terasi khas Juwana dan sirop kawista cap Dewa Burung yang tersohor. Agaknya sang pemilik yang berasal dari pesisir utara Jawa ini juga ingin melestarikan sirop kawista khas Rembang yang tergolong langka. Karena itu di dinding bagian tengah terpasang kliping artikel tentang buah kawista yang langka dan siropnya. Menu yang ditawarkan seperti soto ayam, soto daging, tahu pong Semarang, lumpia Semarang. Soto ayam gaya Kudus memang agak berbeda dengan soto ayam Semarang. Kalau soto Kudus biasanya kuahnya bening, sedikit kekuningan dan rasanya cenderung gurih. Sementara soto ayam Semarang kuahnya bening, agak kecokelatan dengan aksen rasa manis (dari kecap manis). Soto ayam dan soto daging disajikan dalam mangkuk keramik Cina yang kecil (seperti umumnya soto di Jawa Tengah). Kuahnya agak kekuningan dengan tebaran irisan daun kucai yang melimpah. Slurpp… kuahnya terasa gurih, tidak berminyak, suwiran daging ayam kampungnya halus dan empuk, dan tauge pendek yang menjadi pelengkap terasa sangat crunchy dan segar. Soto dagingnya juga berkuah bening, gurih dan dagingnya empuk sekali. Setelah diberi sedikit kecap, perasan jeruk nipis rasanya sangat mengejutkan. Sangat gurih dan enak! Lumpia goreng Semarang yang berisi irisan halus rebung dan daging ayam disajikan dalam piring kecil plus dengan acar lokio dan cabai rawit. Adonan isinya sedikit terlalu manis tetapi bumbunya terasa cukup seimbang. Tak terasa dalam hitungan menit soto kudus, soto daging dan lumpia Semarang pun licin tandas. Teh hangat dan es sirop kawista pun menjadi pelengkap yang pas, sekaligus penawar rindu kampung halaman di Jawa. Sesuai dengan nama ‘kliwon’, salah satu hari pasar pada kalender Jawa, rumah makan ini juga memasang tarif yang tidak mahal. Untuk soto Kudus seporsinya seharga Rp.8000,- , soto daging Rp10.000,- dan lumpia semarang Rp.5000,- per buah. Sedangkan untuk aneka minuman harga berkisar dari Rp.4500,- hingga Rp.8000,- per gelas. Hmm… kalau akhir pekan ini Anda berlibur ke Puncak, jangan lupa mampir untuk mencicipi semangkuk soto Kudus. Apalagi jika Anda berasal dari Jawa Tengah. Hitung-hitung sebagai obat kangen kampung sekaligus penghangat badan!

MasMisMus – Rabu, 28 Mei 2008

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.